MELAJU DI ATAS REL DAKWAH

876318-railway-wallpaper

Dalam perjalanan kereta dakwah, mari kita introspeksi. Muhasabah dengan kondisi terkini. Betapa banyak kemudahan, betapa berlimpah fasilitas, dan tentu godaan popularitas. Tantangan yang semakin panas. Provokasi yang ganas dan beringas. Hati-hati dengan para pendengki yang menyiapkan amunisi guna menjegal perjalanan ini.

Alhamdulillah, dalam perjalanan ini kita bersatu hati dalam susah dan payah, di gerbong ini sebagai rumah besar tempat kita menempa aqidah sehingga kita mampu bertahan dalam tiupan badai fitnah. Gubuk tempat kita membentuk pemikiran (fikrah) sehingga tak mudah terserang oleh ghazwul fikri (perang pemikiran) yang meruntuhkan keyakinan. Griya tempat kita menekuri ayat-ayat Al-Qur’an sehingga kita merasakan kesegaran iman, kejernihan ibadah, keindahan akhlak, keseimbangan gerak. Perjalanan ini adalah perjalanan cinta.

Dalam perjalanan ini kita menahan diri dari hal-hal yang tidak berguna. Menahan diri dari yang bukan miliknya, kepemilikan umum dan kepemilikan khusus. Menahan diri dari perkara yang tidak berguna dan sia-sia. Menahan diri berkata yang buruk atau kelakar yang berlebihan, khafdush shaut (meringankan suara) dan hifzdul lisan (menjaga lisan). Menahan diri dari mencuri informasi yang bukan wilayahnya. Menahan diri dari menyebarkan berita kepada siapa saja alias mampu menjaga rahasia. Menahan diri dari perkara tercela agar tidak jatuh wibawa, muru’ah dan martabatnya.

Di gerbong dakwah ini kita kembalikan ruh tarbawi dengan selalu berpihak kepada nilai rabbani. Jangan sampai baju sederhana merek ukhuwah diganti dengan jaket berkulit mahal berlabel bisnis. Senyuman ramah nan ikhlas diganti menjadi tatapan curiga. Jangan sampai senyum manis diganti tatapan sinis. Tawa renyah ukhuwah diartikan provokasi yang memecah belah. Agar silaturahim dari hati ke hati tak berganti chatting maya tanpa sapa di dunia nyata.

Dalam gerbong dakwah ini kita kokohkan jati diri Muslim sejati sebagai penggerak aqidah, pelopor ibadah dan pewaris akhlak mulia. Ukhuwah tegak dan rancak, tuned in dalam satu kesamaan frekuensi, tujuan dan gelombang yang sama. Dakwah memang tidak harus menyatu di sebuah tempat, namun saling melengkapi, menguatkan, menyempurnakan, sesuai dengan bidang dan spesialisasinya masing-masing. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,

Satu kelompok berbagai bagian kaum mukminin yang melaksanakan perintah Allah, dari kalangan mujahid, ahli fiqih, ahli hadits, ahli zuhud, orang yang memerintahkan yang ma’ruf dan berbagai kebaikan yang lainnya, mereka tidak harus berhimpun di satu tempat, tetapi boleh berpencar di berbagai tempat. (Fathul Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari)

Advertisements

Aku ada di mana?

14718167_131951213937721_6209343526744883200_n

 

Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas.

Banyak orang baik tapi tidak berakal. Ada orang berakal tapi tidak beriman. Ada lidahnya fasih tapi hatinya lalai. Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah namun mewarisi kesombongan Iblis. Ada ahli maksiat yang rendah hati bagaikan sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan. Dan, ada pezina yang tampil jadi figur.

Ada orang punya ilmu tapi tidak faham dalam menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tapi tak tahu diri. Ada orang yang beragama tapi tidak berakhlak. Ada yang berakhlak tapi tidak bertuhan. Lalu di antara semua itu, aku ada di mana? (Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘Anhu)

Bersama Sebelas Abdullah

16124266_401308310223732_6322399113358868480_n

Kesembilan, Abdullah ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu ‘Anhu,

Ketaatannya untuk shalat berjamaah meski buta, selama masih mendengar seruan adzan menjadi cermin yang sangat jelas bagaimana kualitas ketaatannya.

Parameter keterikatannya kepada jamaah terukur dengan shalat berjamaah di masjid. Karena “Barang siapa yang mudah meninggalkan shalat berjamaah, maka dia lebih mudah lagi meninggalkan jamaah dakwah.

Ini berarti orang yang berkhianat pada hayya ‘alashshalah sebenarnya dia sedang berkhianat pada hayya ‘alalfalah..

Tanpa Dakwah, Apa Jadinya Aku?

Bersyukurlah meski kita hanyalah sebutir kerikil dalam sebuah istana yang tinggi menjulang, semoga bisa memperindah istana. Alhamdulillah kita tetap bisa berguna meski tidak kelihatan.

Bersyukurlah kepada Allah karena Allah telah memberi kita kesempatan untuk berkontribusi kecil bagi kebesaran perjuangan, kejayaan Islam, dan kemegahan bangunan dakwah. Ikhlaskan diri meski tak dikenal, tak disapa, tidak dianggap, tidak dicatat. Semoga Allah menerima amal kita. Aamiin.

Kita hanya seperti gerigi jam yang terus bergerak meski tak kelihatan. Ikhlaskan karena hanya tiga jarum yang nampak: jam, menit dan detik.

Ukhuwah itu seperti ikan dan air. Seekor ikan tidak bisa hidup, tumbuh, dan berkembang bila tidak ada air. Ikan yang membutuhkan air, bukan air yang membutuhkan ikan. Kita yang membutuhkan komunitas, merindu ukhuwah untuk merenda jalan taqwa bukan komunitas yang membutuhkan kita. Selalu bersama di kereta dakwah. Kalau kita tidak bersama di kereta dakwah, maka kereta dakwah itu akan terus berjalan dengan orang-orang selain kita.

Bersabarlah bekerja bersama dakwah dengan kekurangan dan kelebihan yang ada. Dengan cinta kita bersama. Dengan kerja kita berkarya. Dengan harmoni kita satu hati. Syaikhut Tarbiyah menasihati:

Tetaplah di sini. Di jalan ini. Bersama kafilah dakwah ini. Seberat apa pun perjalanan yang harus ditempuh, sebesar apa pun pengorbanan untuk menebusnya, tetaplah di sini. Jika bersama dakwah saja engkau serapuh ini, sekuat apa engkau jika seorang diri.