Menetap-Berkekal, Bertumbuh-Bertambah

بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Ditulisan kali ini, saya ingin membagi kepada kalian kisah bayi yatim pembawa berkah. Kisah yang mungkin hanya ada satu-satunya di dunia ini. Kisah yang tertulis didalam buku Lapis-Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah..

Hari itu adalah hari tersusah bagi Al-Harits ibn ‘Abdil ‘Uzza dan Halimah. Bekal mereka benar-benar telah tak tersisa. Hanya dengan tekad kuat, mereka memilih untuk mengambil Muhammad.

Unta betina mereka juga benar-benar tak lagi dapat diperah ambing susunya, dan kini menderum kelelahan tanpa daya. Keledai tunggangan mereka pucat, berkeringat, dan gemetar menahan lapar.

Ketika Halimah mengambil bayi yang dihulurkan oleh Aminah binti Wahb lalu menggendongnya, tetiba dia merasa ada yang berubah pada dirinya. Semula dia berjalan dengan menggeletar sempoyongan karena lelah dan lapar menderanya. Tapi begitu bayi itu terpeluk kedua tangannya dan dia dekap ke dadanya, dia merasa segar dan bertenaga. Tepat ketika bayi itu menangis lapar, dengan ragu dia coba menyusuinya, penuh khawatir bahwa tak setetes pun akan keluar meski dihisap kuat-kuat.

Tetapi ajaib sungguh, payudaranya terasa penuh, dan saat bayi Muhammad mulai menetek, air susunya menderas begitu dahsyat.

“Suamiku bangkit menuju unta milik kami,” ujar Halimah melanjutkan kisah, “ternyata ambing susunya sangat penuh. Ia memerahnya untuk diminum bersamaku hingga kami puas dan kenyang. Kami tertidur nyenyak di malam yang sangat baik itu. Ketika pagi tiba, suamiku berkata, ‘Demi Allah, ketahuilah wahai Halimah! Engkau telah mengambil seorang bayi yang penuh dengan berkah.’

Aku mengatakan, ‘Demi Allah, itulah yang kuharapkan.’

Kemudian kami serombongan meninggalkan Makkah dengan menunggang keledai. Kubawa serta anak itu dalam dekapanku. Demi Allah, jarak itu kami tempuh dengan tunggangan kami jauh lebih cepat daripada keledai-keledai orang lain. Keledai kami yang semula terpincang-pincang dan nafasnya bagai suara tungku, kini berjalan penuh semangat dengan amat ringan seakan bumi terlipat baginya. Sampai-sampai kawan-kawanku berkata kepadaku, ‘Wahai putri Al-Harits, sial engkau ini! Tunggulah kami! Bukankah ini keledaimu yang dulu kau tunggangi saat berangkat?’

Kukatakan kepada mereka, ‘Ya, demi Allah benar. Keledai ini adalah keledai yang dulu itu.’ Mereka mengatakan, ‘Demi Allah, sekarang keledaimu tidak seperti dulu!’

Rombongan akhirnya tiba di daerah pedalaman Bani Sa’d yang terlihat bekas-bekas paceklik tahun itu. Terik mentari masih menyengat. Padang pasir dan bebatuan kian membara di puncak siang. Hewan-hewan gembalaan kian kurud dan lemah, menggigil oleh dingin dan lapar dari senja hingga fajar. Rumput kering pun diperebutkan. Mata air yang menitis lambat menjadi bahan persaingan antara hewan dan manusia.

Tapi Halimah telah menjadi saksi berkah anak yatim itu. Kebaikan telah memancar kepadanya dari segala penjuru. Kenikmatan meliputinya dalam segala hal. Kemudian mendatanginya dari aneka jalan tak terduga.

Kambing-kambingnya selalu keluar menuju ke tempat pengembalaan bersama kambing-kambing orang lain. Ketika kembali ke kandang selalulah ambing susu ternak mereka penuh. Sedang gembalaan orang lain selalu pulang dengan keadaan sebagaimana ketika pergi sehingga kaumnys mencerca tukang gembala mereka.

Pun kambing-kambing itu beranak pinak, berlipat lebih banyak dibanding milik para tetangga. Unta-unta milik Al-Harits ibn ‘Abdil ‘Uzza juga pesat berkembang biak. Seluruh ternak mereka gemuk dan sehat. Seisi rumah diliputi keceriaan dan cinta. Anak-anak di keluarga itu tumbuh sempurna tanpa diganggu penyakit dan bahaya.

Sungguh bayi yatim itu membawa berkah.

•••

“Makna dari berkah,” demikian Dr. Nashir ibn ‘Abdirrahman Al-Juda’i dalam At-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu, “adalah ats-tsubuut (tetap) dan al-luzuum (terus melekat).” Demikian pula beliau kutip dari Mu’jam Maqayisil Lughah karya Ibn Faris bahwasanya lafazh baaraka memiliki satu arti asal, yakni tetapnya sesuatu. Kemudian, lafazh ini berkembang menjadi beberapa turunan kata yang maknanya berdekatan.

Imam dalam bidang Nahwu, Al-Khalil ibn Ahmad menyatakan, “Lafazh al-barku digunakan untuk menggambarkan sekawanan unta yang menderum setelah minum di dekat wahah (telaga di tengah padang pasir).” Dengan demikian, berkah adalah menetap dalam ketenteraman, seperti unta yang merasakan sejuk meski di sekitarnya panas bersangatan.

Makna turunan selanjutnya dari berkah adalah an-namaa’ (berkembang) dan az-ziyaadah (bertambah). Imam Ibn Duraid dalam Jamharatul Lughah menyatakan bahwa jika dikatakan la baarakallaahu fiihi, artinya semoga Allah tidak mengembangkannya. Maka berkah itu bagaikan pokok yang menghujamkan akar, lalu ia tumbuh, batangnya bertambah, dan cabangnya berlipat. Berkembanglah pula pucuk-pucuknya, menerbitkan bunga yang harum dan memunculkan buah yang ranum.

Jika bunga yang wangi dan buah yang manis itu berjumpa hati yang lembut, sampailah kita ke makna yang ketiga dari berkah yakni as-sa’aadah. Kita sering menerjemahkannya sebagai ‘kebahagiaan’. Tapi dalam kamus Lisaanul ‘Arab diterakan, jika ada yang mengatakan, “As’adallaahul ‘abda wa sa’adah”, maka maknanya adalah “Allah telah memberikan taufiq-Nya kepada sang hamba untuk melaksanakan amal yang diridhai-Nya, karena itulah ia beroleh kebahagiaan”. Maka berkah adalah kebahagiaan yang berakarkan ketaatan, atas karunia bimbingan Allah dalam melaksanakan apa yang diridhai-Nya.

•••

Di lapis-lapis keberkahan, kita menelusuri akar makna dari sang puncak kebaikan. Ialah berkah; kebahagiaan yang tumbuh dari bimbingan Allah untuk mentaati-Nya di setiap keadaan.

Sebab, pada hakikatnya, ia terletak di dalam dada dan bersemayam di ruang-ruang rasa, maka wujud lahiriah dari berkah boleh saja beraneka warnanya. Cerita Halimah dan suaminya ketika mengasuh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya satu dari pengejawantahan itu. Kemakmuran yang mereka mereka rasakan tak lebih berharga dari hati berbunga-bunga yang muncul sebelumnya. Yakni ketika mereka memutuskan mengabdikan diri mengasuh anak yafim yang tersisih, yang kawan-kawannya tak hendak memilih.

Di lapis-lapis keberkahan kita juga mengerti bahwa sang yatim hanyalah perantara, satu setapak dari berbagai jalan yang dipilihkan untuk hadirnya nikmat-nikmat itu. Demikian pula ketabahan pasangan suami istri ini ketika menghadapi kesusahan dan pilihan mereka untuk mengambil cucu ‘Abdul Muthalib sebagai anak bayi susuan adalah bimbingan Allah bagi mereka dalam menggapai berkah. Maka lapis-lapis keberkahan, diikat oleh suatu asas penting, bahwa ia bersumber dari Dzar Yang Maha Satu, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tulis Komentarmu disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s