Tiada Daya, Maka Berjaya

بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

image


Untuk kalian, para pengemban amanah dakwah. Para penegak kalimat Allah. Para penyambung risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Yang insya Allah selalu istiqomah dalam menapaki jejak dakwah di jalanNya.

Kisah yang akan kalian baca ini adalah ringkasan dari salah satu subbab sebuah buku dengan kategori Falsafah Hidup, sebuah buku yang dipenuhi dengan keberkahan. Semoga sang penulis dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’aala. Amin..

Lelaki itu pergi dengan marah.

Mari kita fahami berat tugas dakwahnya di Ninawa, betapa telah habis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Malam dan siang, pagi dan petang; diajaknya mereka meninggalkan berhala-berhala tak bernyawa dan perbuatan-perbuatan tak bermakna. Didekatinya mereka satu-satu maupun dalam kumpulan, ketika sepi maupun di keramaian.

Tetapi hanya cemooh dan tertawaan, umpatan dan makian, serta penolakan dan pengusiran yang dia dapat. Maka dia, Yunus ibn Mata namanya, pergi dengan marah. Dia tinggalkan negerinya sembari mengancamkan adzab Allah yang sebagaimana terjadi pada kaum-kaum sebelumnya.

Tapi dia pergi karena ketaksabarannya, ketakteguhannya, dan ketaktelatenannya. Dia pergi sebelum ada perintah Allah untuk menghentikan seruannya. Dia menyerah sebelum tiba waktunya. Maka sebagai yang disayangi-Nya, Allah akan mendidiknya untuk sabar dengan cara lain, jika dia tak sabar dalam tugas dakwahnya. Cara itu adalah musibah.

Kita tahu ringkasnya, Yunus yang menumpang sebuah kapal akhirnya dibuang ke samudra setelah tiga kali muncul namanya dalam undian. Ketetapan Allah berlaku baginya. Seekor ikan membuka mulut menyambut tubuhnya yang terjun ke air. Bahkan, menurut sebagian mufassir, ikan yang menelannya dilahap ikan yang lebih besar, lalu dengan perut berisi ia menuju ke dasar lautan. Maka jadilah Yunus berada dalam gelap, dalam gelap, dalam gelap. Kelam berlapis-lapis.

•••

Di antara hikmah yang selalu melekat pada setiap musibah adalah pertanyaan, “Apa kesalahanku sehingga cobaan ini menimpa?” Selanjutnya, memang kepekaan hatilah yang menentukan jawab dan tindakan yang akan diambil. Maka, berbahagialah yang segera merundukkan diri di hadapan keagungan Allah, serta berlirih-lirih mengadukan kelemahan, kesilapan, dan keheningan.

“Allah menciptakan manusia”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam Al-Mustafad min Qashashil Qur’an, “dengan menggariskan baginya bahwa berbuat keliru dan jatuh dalam kesalahan adalah perkara yang mungkin, bahkan niscaya.” Tapi dengan kasih-Nya, Allah juga membukakan pintu agar dosa-dosa menjadi jalan kembali dan pelarian suci, tempat bersimpuh dan sandaran berteduh, mahligai yang syahdu bagi bermesra, meminta, dan beroleh karunia.

Maka demikianlah Yunus, ‘Alaihissalam. Diperut ikan Nun, dalam gelap yang mencekik hingga ke hati, dia menangisi kelemahannya, menekuri hari-harinya, dan mengaku telah berbuat aniaya.

“Laa ilaaha illaa Anta, subhaanaKa, innii kuntu minazhzhaalimin. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau. Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” (QS. Al-Anbiyaa’:87)

Doa Yunus, betapa sederhana. Tapi indah dan mesra. Akrab dan hormat. Takzim dan syahdu. Demikianlah pada pinta para Nabi di dalam Al-Qur’an, kita menemukan lafazh doa, ruh tauhid, sekaligus keindahan adab. Hari ini, ketika kita disuguhi fahaman antah berantah bahwa doa harus dirinci-rinci, dibayang-bayangkan, dan dijernih-jernihkan; seakan dengan demikian ia lebih cepat dikabulkan. Karenanya, mari berkaca pada doa Yunus.

Tak ada di sana pinta untuk mengeluarkannya dari perut ikan, apalagi desakan agar segera. Tak ada di sana rajuk-rajuk manja, iba-iba memelas, apalagi kalimat perintah yang pongah. “Doa Dzun Nun, ‘Alaihissalam,” demikian menurut Ibnu Taimiyah, “adalah di antara seagung-agung doa di dalam Al-Qur’an.” Doa itu mengandung dua hal saja, merunduk-runduk mengakui keagungan Allah dan berlirih-lirih mengadukan kelemahan diri.

Maka doa Yunus yang tidak dirinci, yang tidak dibayang-bayangkan, bahkan tak tergambar apa yang dipintanya, dijawab Allah dengan limpahan karunia yang membawa kejayaan. Dia hanya mengakui ketidakberdayaan dan laku aniayanya pada diri sendiri; maka Allah Yang Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, mengulurkan pertolongan-Nya, pembelaan-Nya, dan bantuan-Nya.

Betapa berkah doa Yunus. Bukan hanya menjadi karunia keselamatan dirinya, doa itu bahkan menjadi anugerah hidayah bagi begitu banyak manusia dari kaumnya. Dakwah Yunus berjaya, tepat pada saat dia merasa dan mengaku bahwa dirinya berdosa di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Dakwah Yunus berjaya, ketika dia mengakui dirinya aniaya dan hatinya tunduk memuliakan Allah ‘Azza wa Jalla. Dakwah Yunus berjaya, ketika dia merasa tak berdaya.

Di lapis-lapis keberkahan, berjayalah hamba yang merasa tak berdaya tanpa-Nya. Maka Maha Suci Dzat yang menjadikan berhina pada-Nya sebagai kemuliaan, berfaqir kepada-Nya sebagai kekayaan, tunduk pada-Nya sebagai keluhuran, dan bersandar pada-Nya sebagai kecukupan.

Lapis-Lapis Keberkahan, Salim A. Fillah

Tulis Komentarmu disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s