Bukan Empunya, Tapi Apa Jawabnya

image

بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Saat kita kecil, tentu pernah kita minta uang pada ibu kita. “Bunda,” demikian mungkin kalimatnya, “aku minta uang, lima ribu saja!” Dan kita pun tahu, atas pinta itu, ibu kita bertanya, “Buat apa, Nak?”

Pada semua yang kita citakan dan mohonkan pada Allah, tidakkah kita menyiapkan jawaban sebagaimana kita menjawab ibu kita yang bertanya atas tiap uang yang kita minta? Dan bukankah pertanyaan Allah di akhirat yang disebut sebagai hisab, amat rumit dan berat? Kata Imam Asy-Syafi’i, “Takkan sempurna kekayaan sampai kita memahami bahwa sedikitnya harta justru adalah ringannya perhitungan di akhirat sana.”

Hisab adalah salah satu kengerian terdahsyat dari rangkaian peristiwa sesudah manusia dibangkitkan sebakda Kiamat. “Ketika seorang hamba dihadapkan kepada Allah,” demikian sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana dicatat Imam Al-Baihaqi, “maka ditampakkanlah kepadanya semua nikmat yang telah Allah karuniakan padanya. Dan dia pun mengakui hal itu. Lalu diperlihatkanlah kepadanya semua amal yang telah dia lakukan dengan anugerah dari Rabbnya itu, hingga dia merasa sangat malu karenanya. Dia malu karena banyaknya hal nista yang tertampil di sana. Dia malu karena justru rizqi dari Yang Maha Memberi, dia gunakan untuk mendurhakai Sang Pengarunia.”

“Rasa malu sangat parah mencekam jiwanya,” demikian lanjut beliau, “sampai-sampai keringatnya mengucur deras. Maka di hadapan hisab itu, hamba-hamba Allah akan tenggelam di dalam keringatnya sendiri. Ada yang tergenang hingga mata kaki. Ada yang terbenam hingga lutut. Ada yang terselam hingga pundak. Dan ada yang karam hingga kepala.”

Betapa berat kengerian hisab. Diriwayatkan dari Sayyidina ‘Umar beliau berkata sambil menangis, “Orang yang dihisab, sudahlah di adzab.”

Betapa berat kengerian hisab. Terlebih lagi hisab harta yang pertanyaannya ada dua bab. Keduanya yakni: “Dengan cara apa kau memperolehnya?” dan “Dalam apa kau membelanjakannya?” Maka berkata Sayyidina ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhu. “Dunia ini celaka. Yang halalnya akan dihisab. Yang haramnya akan diadzab.”

Bagi kita yang sudah terlanjur menikmati begitu berlimpah karunia, mari bergegas menyusun jawab atas semua yang ada dan semua yang kita pinta.

Sumber: Lapis-Lapis Keberkahan, Salim A. Fillah, 2014.

Tulis Komentarmu disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s